Acehline.id | Duka mendalam menyelimuti seluruh bangsa Indonesia. Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di bawah United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan pada 29–30 Maret 2026.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik Israel-Hizbullah. Indonesia mengecam keras serangan tersebut dan menuntut investigasi transparan PBB. Berikut laporan lengkap yang kami himpun dari berbagai sumber.
Kronologi Lengkap Insiden yang Menewaskan Prajurit TNI UNIFIL
Berdasarkan laporan UNIFIL dan investigasi awal hingga 1 April 2026:
- Insiden Pertama – Minggu malam, 29 Maret 2026 (pukul 20.44 waktu setempat / 01.44 WIB 30 Maret): Sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat desa Adchit al-Qusayr (Adshit al-Qusyar), Lebanon Selatan. Satu prajurit TNI gugur di tempat, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. UNIFIL menyebut asal proyektil berasal dari “unknown origin” (tidak diketahui).
- Insiden Kedua – Senin, 30 Maret 2026 pagi (pukul 11.00 waktu setempat): Tim escort logistik Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL (Sector East Mobile Reserve) sedang mengawal konvoi ketika ledakan menghancurkan kendaraan mereka dekat Bani Hayyan (Bani Haiyyan). Dua prajurit TNI gugur, sementara dua lainnya terluka (satu di antaranya parah).
Total korban: 3 gugur, 5 luka. Kedua insiden terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam dan menjadi korban pertama pasukan perdamaian dalam eskalasi konflik Israel-Hizbullah saat ini.
Penyebab Kematian dan Status Penyelidikan
UNIFIL meluncurkan investigasi penuh terhadap kedua insiden. Menurut temuan awal yang disampaikan Kepala Peacekeeping PBB Jean-Pierre Lacroix ke Dewan Keamanan PBB, ledakan pada 30 Maret disebabkan oleh roadside explosion (ledakan pinggir jalan) yang menghantam konvoi.
UNIFIL menyebut kedua insiden melibatkan “projectiles of unknown origin”. Sekjen PBB Antonio Guterres menekankan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian merupakan “grave violation” terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701 (2006). UNIFIL menyerukan agar semua pihak menjaga keselamatan personel PBB.
Israel membantah keterlibatan langsung dan meluncurkan penyelidikan internal. Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri dan perwakilan di PBB, menuntut investigasi independen yang cepat, menyeluruh, dan transparan. Indonesia menegaskan bahwa “setiap bahaya terhadap pasukan perdamaian adalah tidak dapat diterima”.

Tujuan Bertugas Prajurit TNI di UNIFIL Lebanon
Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-S dikerahkan sejak April 2025 dengan kekuatan ratusan personel, termasuk Batalyon Mekanis. Mandat utama sesuai Resolusi DK PBB 1701 (2006):
- Memantau dan menjaga gencatan senjata di sepanjang Blue Line (garis demarkasi Israel-Lebanon).
- Membantu pemerintah Lebanon memulihkan kedaulatan di wilayah selatan.
- Melindungi warga sipil dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan di tengah konflik.
Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar UNIFIL. Misi ini mencerminkan komitmen Indonesia sebagai negara pencinta perdamaian, meski berada di zona berisiko tinggi.
Profil Karir dan Prestasi 3 Prajurit TNI yang Gugur
1. Praka Farizal Rhomadhon (28 tahun)
Praka Farizal Rhomadhon merupakan personel Yonif 113/Jaya Sakti, Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda (Aceh). Ia bergabung dengan TNI sejak 2017 dan telah mengabdi selama 9 tahun.
Di Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL, ia bertugas sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima di Kompi C UNP 7-1. Farizal dikenal sebagai prajurit disiplin, rajin, dan berkontribusi aktif dalam menjaga ketertiban di kesatuan. Keikutsertaannya dalam misi UNIFIL menunjukkan dedikasi tinggi pada tugas perdamaian internasional. Ia seharusnya menyelesaikan masa tugas di Lebanon pada Mei 2026.
2. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar (33 tahun)
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar merupakan perwira lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2015. Ia bertugas di Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan menjadi bagian dari Sector East Mobile Reserve (SEMR) UNIFIL.
Sebagai perwira elite, Zulmi memiliki rekam jejak karir cemerlang dengan pengalaman operasional tinggi. Di misi UNIFIL, ia bertanggung jawab sebagai komandan tim escort dalam pengawalan konvoi logistik. Dedikasinya sebagai prajurit profesional dan komitmen terhadap tugas perdamaian dunia telah menjadi kebanggaan satuan. Ia telah menjalani tugas di Lebanon selama hampir satu tahun.
3. Sertu Muhammad Nur Ichwan (25–26 tahun)
Sertu Muhammad Nur Ichwan merupakan prajurit dari Kesdam IX/Udayana yang tergabung dalam Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Lahir pada 12 Mei 2000 di Magelang, Jawa Tengah, ia bergabung dengan TNI dan telah menunjukkan dedikasi tinggi sejak awal karir.
Di Lebanon, ia bertugas dalam tim escort logistik. Meski masih muda, Ichwan dikenal sebagai prajurit bertanggung jawab dan siap melaksanakan tugas kemanusiaan di tengah situasi sulit. Ia telah aktif dalam misi perdamaian sejak April 2025.
Reaksi Nasional dan Internasional
Presiden Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta seluruh pimpinan negara menyampaikan duka cita mendalam. DPR RI mendesak sidang darurat PBB. Indonesia menegaskan komitmen tetap menjalankan misi perdamaian meski harus kehilangan putra-putra terbaiknya.
UNIFIL dan Sekjen PBB mengecam insiden ini. Jenazah ketiga pahlawan sedang dalam proses pemulangan dan akan dimakamkan dengan upacara militer penuh kehormatan.










